Ever had one of those days, when you find yourself really vulnerable, that everytime 'the memories' strike your mind, you can always easily drop enough tears to drown you? When every single sad song can reduce you to tears? When telling someone the story, is supposed to make you happy because you're just so proud of it, but you just cry stupidly in front of them instead? Even when you're in public places, you can find yourself trying real hard holding back the tears because you'll look pathetic if people see you crying while taking the escalator?
Well today is that day for me.
Monday, May 28, 2012
Monday, March 19, 2012
last shit before exams weeks
gue pengen banget balik lagi ke 'best-days-of-2012' itu. kesekian kalinya udah gue ngulang ini di dalem otak gue. dan kayanya belom pol kalo belom nyampah di blog. plis. gue bener-bener pengen.
gue bahkan sempet kepikiran buat stuck in the time loop on that day. see? kurang bukti apa kalo gue udah nggak waras. sangat nggak waras.
do you have any idea how many times those pieces of memories snatch away my sanity every single day?! how everytime they come to my mind, i pause everything that i was doing and stare blankly like an idiot? yes it's stupid. so so so stupid.
dan di saat kaya gini gue cuma berulang kali berharap ada yang namanya mesin waktu. would be convenient. atau universal remote control like the one adam sandler had. ya karena kalau ngalamin itu lagi terlalu nggak mungkin, seenggaknya gue bisa menonton itu berulang-ulang lagi dan lagi.
to be there, just to watch everything all over again, in a third person's point of view.
kenapa harus orang ketiga? hm karena orang pertama, yaitu gue, ya udah pernah gue jalanin. i mean it's great but i can always see it from my memory right? kalo orang kedua... hm. nggak tau ya. terkesan serem aja kalo mau tau apa yang dia pikirkan. belum siap. takut hahaha. kalo orang ketiga? well lengkap kan. gue bisa liat gue kayak apa, dia kayak apa. walaupun secara fisik doang. yah kayak nonton film aja.
alternatif lain? seandainya setiap kenangan yang kita punya bisa direkam dalam bentuk video, dan bisa ditonton berkali-kali. karena kenangan, jadi pasti sudut pandang orang pertama. dan gue sangat-sangat nggak masalah sama itu.
to feel it all over again.
itu kan yang bakal gue dapet dari semua pengandaian gue. dibawa mikir, kapan lagi gue bisa kayak gitu? kejadian super langka yang sama langkanya kayak periode melintasnya komet halley di bumi. apalagi dibandingin keadaan yang sekarang kayak gimana. bikin dua hari berharga itu cuma kerasa kayak mimpi, yang cuma bisa gue yang liat dan inget, yang nggak berarti apa-apa.
dude, i remember everything.
Sunday, February 26, 2012
If
If you knew my whole story, would you act differently?
If you knew how many times you've made me smile like a lunatic, would you act differently?
Probably yes.
Probably not.
Hopefully yes, though.
But in a good way.
*******************************
Ngomong-ngomong akhir-akhir ini blog saya pembacanya bertambah ya? HAHA. Gak tau loh mesti seneng apa malu. Lumayan banyak soalnya. (Ya, 4 itu banyak dude. Seenggaknya buat gue.) Jadi uhm... Gak papa kok baca. Tapi jgn diungkit-ungkit depan gue plis. Malu sumpah hahaaha. You know who you are. Oknum berinisial BKA, ALP, SN, dan MW. Ya maksud gue itu kalian. Tapi makasih loh atas segelintir pujian (?) yg kalian lontarkan walaupun seringan ngeledekinnya :')
If you knew how many times you've made me smile like a lunatic, would you act differently?
Probably yes.
Probably not.
Hopefully yes, though.
But in a good way.
*******************************
Ngomong-ngomong akhir-akhir ini blog saya pembacanya bertambah ya? HAHA. Gak tau loh mesti seneng apa malu. Lumayan banyak soalnya. (Ya, 4 itu banyak dude. Seenggaknya buat gue.) Jadi uhm... Gak papa kok baca. Tapi jgn diungkit-ungkit depan gue plis. Malu sumpah hahaaha. You know who you are. Oknum berinisial BKA, ALP, SN, dan MW. Ya maksud gue itu kalian. Tapi makasih loh atas segelintir pujian (?) yg kalian lontarkan walaupun seringan ngeledekinnya :')
Post genres:
author's note,
love
Monday, February 13, 2012
i'm losing my mind
Kalo ada orang yang bilang "Jatuh cinta itu bodoh." atau "Jatuh cinta itu bikin orang bodoh", gue sangat setuju sekali dengan si pembuat quote tersebut.
Orang normal, kalo jadi gue, saat ini juga, seharusnya akan bisa 72 jam full non stop tersenyum terus.
Gue? Hahahah basah nih bantal gue kena banjiran air mata gue.
Gak waras. Bodoh. Menggelikan. Konyol. Ugh. Stop gue lah siapapun.
Butuh waktu 15 menit buat gue sadar kenapa bisa kaya gini.
Takut kehilangan. Gah. Siapapun rajam gue aja deh pake albumnya boyband kacangan indonesia.
Orang normal, kalo jadi gue, saat ini juga, seharusnya akan bisa 72 jam full non stop tersenyum terus.
Gue? Hahahah basah nih bantal gue kena banjiran air mata gue.
Gak waras. Bodoh. Menggelikan. Konyol. Ugh. Stop gue lah siapapun.
Butuh waktu 15 menit buat gue sadar kenapa bisa kaya gini.
Takut kehilangan. Gah. Siapapun rajam gue aja deh pake albumnya boyband kacangan indonesia.
Tuesday, January 24, 2012
i'm alone wandering here
Matahari sore hari. Dari dulu gue sangat suka cuaca dan waktu seperti ini.
Sama kayak sekarang. Sendirian, gue merebahkan diri gue di alat fitness tante gue yang nggak terlalu nyaman ini. Sinar matahari melingkupi gue. Panas emang, tapi gue suka. Ipod jadi satu-satunya temen bersuara gue.
Dan saat itu juga gue baca berita yang seharusnya sangat sangat gue tunggu, tapi ternyata hasilnya nggak sesuai yang diharapkan.
FUCK.
Cuma kata itu yang berulang kali keluar dari mulut ini. Bahkan angin yang meniup nggak bisa menenangkan kepala gue, kaya sebelum-sebelumnya.
Segala hal berkelibat di kepala gue. Mencoba memeras otak yang berdebu karena jarang digunain ini, berharap bisa memecahkan kasus ini seperti yang selalu dilakukan di masa lalu.
"Holyshit. Ini bener-bener God's test." batin gue.
Ini gila. Otak pemberontak gue nggak bisa memecahkan kasus ini. Kasus ini level Yoda, bung! Mungkin dengan yang sudah gue lakukan dulu dan pencapaian yang gue raih dulu, mungkin gue selevel Jedi untuk beberapa orang. Tapi sekali lagi, ini LEVEL YODA! Dan gue putus asa. Walaupun jangka waktu pemerasan otak ini cukup singkat, tapi hampir semua kemungkinan udah gue pikir mateng-mateng. Ini benar-benar Mission Impossible.
Pertama, GUE JELAS-JELAS BUKAN TOM CRUISE. Kedua, GUE BUKAN AGEN IMF YANG MEMILIKI GADGET YANG BISA DIRAIH DI ABAD 26! Ketiga, HIDUP GUE BUKAN FILM MISSION IMPOSSIBLE!
Gue menghela nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ipod, dengan perawakan Hitlernya menampar gue dengan lirik lagu:
"A heavy plate for one to undertake."
Di saat keadaan tidak seperti yang diharapkan, mari menelan crosstrainer di sebelah gue ini.
Sama kayak sekarang. Sendirian, gue merebahkan diri gue di alat fitness tante gue yang nggak terlalu nyaman ini. Sinar matahari melingkupi gue. Panas emang, tapi gue suka. Ipod jadi satu-satunya temen bersuara gue.
Dan saat itu juga gue baca berita yang seharusnya sangat sangat gue tunggu, tapi ternyata hasilnya nggak sesuai yang diharapkan.
FUCK.
Cuma kata itu yang berulang kali keluar dari mulut ini. Bahkan angin yang meniup nggak bisa menenangkan kepala gue, kaya sebelum-sebelumnya.
Segala hal berkelibat di kepala gue. Mencoba memeras otak yang berdebu karena jarang digunain ini, berharap bisa memecahkan kasus ini seperti yang selalu dilakukan di masa lalu.
"Holyshit. Ini bener-bener God's test." batin gue.
Ini gila. Otak pemberontak gue nggak bisa memecahkan kasus ini. Kasus ini level Yoda, bung! Mungkin dengan yang sudah gue lakukan dulu dan pencapaian yang gue raih dulu, mungkin gue selevel Jedi untuk beberapa orang. Tapi sekali lagi, ini LEVEL YODA! Dan gue putus asa. Walaupun jangka waktu pemerasan otak ini cukup singkat, tapi hampir semua kemungkinan udah gue pikir mateng-mateng. Ini benar-benar Mission Impossible.
Pertama, GUE JELAS-JELAS BUKAN TOM CRUISE. Kedua, GUE BUKAN AGEN IMF YANG MEMILIKI GADGET YANG BISA DIRAIH DI ABAD 26! Ketiga, HIDUP GUE BUKAN FILM MISSION IMPOSSIBLE!
Gue menghela nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba ipod, dengan perawakan Hitlernya menampar gue dengan lirik lagu:
"A heavy plate for one to undertake."
Di saat keadaan tidak seperti yang diharapkan, mari menelan crosstrainer di sebelah gue ini.
Sunday, January 15, 2012
pardon my temper tantrum
Inilah alasan kenapa gue lebih memilih untuk nggak me-label-i teman-teman gue. Gue nggak pernah melabeli teman ke dalam tingkatan seperti 'BFF' atau 'Sahabat' atau 'Besties' atau lainnya. Sejauh 'label' yg gue buat itu cuma dua: "Teman (main)" dan "Teman sekolah". Yg masuk ke kategori 'teman sekolah' adalah orang-orang yang kebetulan pergi ke sekolah yg sama dengan gue dan menjalin kontak dengan gue secara sangat minim. Yg kontaknya lebih sering masuk ke teman main. Itu sejauh yg gue lakukan dalam 'pelabelan' teman ini. Tapi di kelompok 'teman main' gue sangat jarang, oh bahkan hampir nggak pernah melabeli mereka ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
Walaupun tingkah laku dan sifat gue menunjukan tingkatan label-label itu, tapi gue nggak pernah secara verbal mendeklarasikan kalau mereka merupakan label tertentu di lingkaran pertemanan gue.
Karena apa? Pengalaman seumur hidup dari jaman gue pertama kali mengenal makhluk yang namanya 'teman' tentu aja. Setiap kali gue dalam hati meyakinkan ke diri sendiri bahwa beberapa orang tertentu itu adalah sahabat, gue selalu dibuat kecewa, dikhianati, dilupakan, diabaikan, diinjak-injak, bahkan nggak dianggap, yang akhirnya diakhiri dengan 'go our separate ways'. Bahkan yang baru saja terjadi di post sebelumnya, orang yang gue labeli sahabat itu bahkan malas menghabiskan waktunya dengan gue. Setiap kali dengan masalah yang berbeda tiap kasusnya. Membuat gue menyesal pernah melabeli mereka sebagai sahabat.
Mungkin gue yang terlalu sensitif, kesalahan kecil gue besar-besarkan. Mungkin memang gue yang belum waktunya ketemu 'sahabat yang sebenarnya'. Mungkin gue yang harus belajar memahami. Mungkin 17 tahun umur gue belum cukup untuk menemukan orang yang layak dilabeli sahabat. Atau mungkin, sama seperti halnya pasangan hidup atau jodoh, mungkin gue adalah satu dari beberapa orang 'beruntung' lainnya yang ditakdirkan tanpa sahabat.
Jadi bukan gue nggak menganggap mereka sahabat atau nggak mau menganggap sahabat. Tapi gue rasa gue butuh waktu untuk memberi seseorang label 'sahabat'.
Lagipula, apa pentingnya label itu sendiri? Apa gunanya label itu, jika tanpa label, hubungan teman kita tetap menyenangkan?
Ugh so much for friendship.
Walaupun tingkah laku dan sifat gue menunjukan tingkatan label-label itu, tapi gue nggak pernah secara verbal mendeklarasikan kalau mereka merupakan label tertentu di lingkaran pertemanan gue.
Karena apa? Pengalaman seumur hidup dari jaman gue pertama kali mengenal makhluk yang namanya 'teman' tentu aja. Setiap kali gue dalam hati meyakinkan ke diri sendiri bahwa beberapa orang tertentu itu adalah sahabat, gue selalu dibuat kecewa, dikhianati, dilupakan, diabaikan, diinjak-injak, bahkan nggak dianggap, yang akhirnya diakhiri dengan 'go our separate ways'. Bahkan yang baru saja terjadi di post sebelumnya, orang yang gue labeli sahabat itu bahkan malas menghabiskan waktunya dengan gue. Setiap kali dengan masalah yang berbeda tiap kasusnya. Membuat gue menyesal pernah melabeli mereka sebagai sahabat.
Mungkin gue yang terlalu sensitif, kesalahan kecil gue besar-besarkan. Mungkin memang gue yang belum waktunya ketemu 'sahabat yang sebenarnya'. Mungkin gue yang harus belajar memahami. Mungkin 17 tahun umur gue belum cukup untuk menemukan orang yang layak dilabeli sahabat. Atau mungkin, sama seperti halnya pasangan hidup atau jodoh, mungkin gue adalah satu dari beberapa orang 'beruntung' lainnya yang ditakdirkan tanpa sahabat.
Jadi bukan gue nggak menganggap mereka sahabat atau nggak mau menganggap sahabat. Tapi gue rasa gue butuh waktu untuk memberi seseorang label 'sahabat'.
Lagipula, apa pentingnya label itu sendiri? Apa gunanya label itu, jika tanpa label, hubungan teman kita tetap menyenangkan?
Ugh so much for friendship.
Subscribe to:
Posts (Atom)



